Beberapa Fakta Penyanderaan Warga Wakatobi Oleh Kelompok Abu Sayyaf

WAKATOBI, TOPIKSULTRA.COM—Indonesia kembali digegerkan dengan penangkapan 2 orang WNI oleh kelompok teroris Abu Sayyaf di Malaysia dan kini menjadi sandera, untuk meminta tebusan dari Pemerintah RI.

Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Golden Hart mengatakan kedua warga yang disandra kelompok Abu Sayyaf adalah warga Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara, yakni Hariadin dan Heri.

banner 720x527

Berikut fakta-fakta kedua WNI asal Wakatobi yang menjadi sandra kelompok bersenjata Abu Sayyaf:

  1. Berasal dari Desa Kalimas, Kecamatan Kaledupa, Wakatobi
  2. Hariadin bersama keluarganya telah lama meninggalkan Kaledupa sejak tahun 2012 untuk bekerja di Malaysia.
  3. Tanggal 8 Desember 2018, Hariadin sempat menghubungi istrinya via seluler dan mengabarkan jika mereka disandera kelompok Abu Sayyaf.
  4. Keduanya telah disandera kelompok Abu Sayyaf sejak 2 bulan lalu, tepatnya 6 Desember 2018, di Perairan Sandakan Malaysia.
  5. Hariadi masih tercatat sebagai warga Dusun La Bantea Desa Kalimas Kaledupa (terdaftar dalam KK yang dikeluarkan Dinas Capil Wakatobi tanggal 16 Januari 2018.
  6. Hariadi kelahiran 5 Agustus 1973 adalah seorang petani yang hanya tamatan SMP.
  7. Upaya pembebasan keduanya kini mendapat perhatian khusus dari JS Center dan telah dilaporkan ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Penyanderaan kedua Warga Negara Indonesia (WNI) diketahui bernama Hariadin (43), warga Desa Kalimas, Kecamatan Kaledupa dan Heri (30), warga Desa Sandi, Kecamatan Kaledupa Selatan.

Aktivis Wakatobi melakukan aksi teatrikal di bundaran Panggulubelo, Kecamatan Wangi-wangi Selatan. Foto : Ode Nafi

Penyanderaan ini diketahui ketika akun Facebook milik Rhafel Araruna mengunggah video penyanderaan yang berdurasi 30 detik dengan penjelasan yang disisipkan pada keterangan video.

“Kelompok Abu Sayyaf menyandera dua warga Indonesia asal Wakatobi yang berprofesi sebagai nelayan di Sandakan, Malaysia,” tulisnya.

Dengan penyanderaan itu, menarik perhatian masyarakat Wakatobi. Salah satunya seorang aktivis, Dariono melakukan aksi teatrikal pembungkaman di Bundaran Pangulubelo, dan Kantor Bupati Wakatobi, dengan cara mengisolasi mulutnya sambil memegang spanduk yang tetulis, “Pak Presiden, Selamatkan Saudara Kami Asal Wakatobi Yang di Sandera Abu Sayyaf,” Rabu (20-2-2019).

Usai aksi teatrikal pembungkaman sekitar satu jam, Dariono bersama dua orang temannya meninggalkan tempat dan menuju ke Kantor Bupati Wakatobi untuk meminta Pemerintah Wakatobi segera melakukan tindakan, menyelamatkan dua orang yang disandera oleh Abu Sayyaf.

Wakil Bupati Wakatobi, Ilmiati Daud menerima para aktivis dan rekan media di ruangannya. Ilmiati mengatakan, sejak melihat video penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf, berbagai cara telah dilakukan untuk menyampaikan permohonan kepada Presiden melalui kementerian.

“Saat ini, kami masih menunggu informasi dari pihak kementerian untuk segera menyampaikan kepada Bapak Presiden kita, Joko Widodo untuk segera melakukan tindakan,” ucapnya.

Wakil Bupati Wakatobi, Ilmiati Daud melakukan pertemuan bersama aktivis terkait penyanderaan dua orang warga asal Wakatobi. Foto: Ode Nafi

Ilmiati menambahkan, perihal ini sudah diketahui oleh Bupati Wakatobi dan Pemerintahan Daerah sudah melakukan tindakan dengan menyampaikan pesan kami kepada Presiden Jokowi melalui pihak kementerian untuk segera menanggapi perihal penyanderaan yang diduga warga Wakatobi.

“Untuk pihak keluarga, kita sama-sama berdoa dan berharap semoga tetap dalam lindungan Allah dan pemerintah tidak menutup mata untuk membantu warga kita yang sudah disandera di Malaysia oleh Abu Sayyaf,” tambahnya.

Laporan : Hendriansyah/Ode Nafi

Topik Hari Ini