by

Nasib SMA Kelas Khusus Runduma, Ditinggalkan Siswa dan Kepala Sekolah

WAKATOBI, TOPIKSULTRA.COM – Nasib SMA Kelas Khusus Desa Runduma, Kabupaten Wakatobi, kini ditinggalkan siswanya karena orang tua siswa memilih melanjutkan pendidikan anaknya di daratan lain, sebab SMA kebanggaan masyarakat yang mendiami Pulau Runduma itu fakum dari aktifitas belajar mengajar sejak dipimpin oleh Asriwati.

Seperti dikatakan Kepala Desa Pulau Runduma, Labarani. Ketika Kepala Sekolah (Kepsek) Asrawati menjabat dari tahun 2016, sepengetahuannya hanya dua kali menginjakkan kaki di Runduma sehingga sekolah tidak terurus dan membuat warganya resah karena harus memilih alternatif sekolah lain untuk menyelamatkan putra putri mereka dari ancaman putus sekolah.

“Di Runduma harapan melanjutkan ke tingkat SMA hanya SMA Kelas Khusus ini, kalau tidak terurus kami terpaksa menyebrang pulau untuk melanjutkan pendidikan anak anak di pulau ini,” ucapnya kepada Topiksultra.com (9/7).

La Barani mengharpkan agar Kepala Sekolah memperhatihan SMA di Runduma, sehingga tidak terbengkalai, dan Kepsek juga tidak boleh menekan warga Runduma untuk tidak boleh memilih sekolah lain di luar daerah.

“Kami mau pendidikan terbaik untuk anak kami, kalau seperti ini kondisinya, anak kami tidak mau jadi korban karena sekolah tidak diurus, maka dari itu saya pribadi baru baru ini daftarkan anak saya di Baubau,” urainya.

Sementara itu Kepsek Asrawati saat dikonfirmasi membantah tudingan Kepala Desa Runduma, dia mengatakan berhentinya aktifitas belajar mengajar di SMA tersebut karena adanya provokasi masyarakat menolak guru honorer, dan guru PNS yang ditugaskan tidak mau masuk mengajar.

“Kemudian juga karena SMA ini kewenangannya provinsi maka saya harus bolak balik, ke Kendari untuk mengurus kepentingan siswa dan sekolah,” ucapnya.

Asrawati juga mengungkapakan, untuk megatasi kekurangan tenaga guru, dia harus mengajarkan 16 mata pelajaran karena guru PNS yang ditugaskan tidak masuk mengajar sehingga mata pelajaran lainnya ditangani oleh tenaga honorer.

“Mereka sengaja ingin merusak saya di Runduma sehingga saya diganti dengan yang lain dengan cara kudeta, mereka memprofokasi masyarakat,” tambahnya.

Masih Asriwati menjelaskan, sejak 2018 sudah tidak ada lagi siswa yang mendaftar di SMA itu, dan 2019 sejak dibuka pendaftaran hanya satu siswa yang mendaftar, sedangkan lainnya memilih sekolah lain di luar Pulau Runduma.

“Namun sekarang sudah ada 4 guru PNS yang kami datangkan ke Runduma mudah mudahan bisa semua masalah bisa teratasi,”

Akan tetapi pernyataan Asrawati ini dibantah oleh salah satu guru PNS SMA Runduma yang enggan disebutkan identitasnya itu, dia mengungkapkan jika pernah hingga dua tahun tidak diberikan jam belajar, serta fasilitas mengajarpun tidak diberikan sementara kepala sekolah ke Runduma bisa dihitung jari.

“Saya pribadi pernah hingga 2 tahun tidak dikasih jam belajar, Kepsek ambil semua mata pelajaran tetapi tidak pernah masuk,” ungkapnya.

Kepala Desa Runduma, Labarani menginginkan agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra agar melakukan evaluasi terhadap kinerja Kepsek SMA Kelas Khusus itu.

“Harpan kita agar Kepsek segera melaksanakan tugasnya sebagai Kepsek di Runduma, kalaupun sudah tidak mau lagi agar segera pindah saja supay sekolah bisa berjalan degan baik,” tegasnya.

Laporan : Hendriansyah

Comment

Topik Hari Ini