by

14 Hari Menanti Hasil Tes Swab Keluar

TOPIKSULTRA.COM — Salah satu pasien positif terinfeksi virus corona (COVID-19), Riki Rachman Permana, mengungkapkan dirinya sudah dua pekan menunggu hasil tes swab (pemeriksaan jaringan hidung dan tenggorokan) lanjutan.

Keterlambatan hasil tes swab ini terjadi pada uji ketiga hingga kelima yang ia lakukan pada periode 14-18 Maret. Diketahui, setiap pasien positif corona memang akan diperiksa swab berulang kali untuk mengetahui apakah tubuhnya sudah terbebas dari virus.

banner 720x527

Ricky yang saat ini tengah dirawat isolasi di RSUD Gunung Jati Kota Cirebon, juga menggunakan media sosial pribadinya untuk mengutarakan masalah ini kepada Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

“Saya masih menunggu hasil swab ketiga sampai kelima. Ini sudah hari ke-14 saya menunggu,” kata Riki saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (28/3).

Riki sendiri dirujuk ke RSUD Gunung Jati Kota Cirebon pada (8/3) malam dengan gejala demam lebih dari lima hari. Esoknya setelah dilakukan tes swab, ia dinyatakan positif covid-19.

Kemudian pada tanggal (10/3) ia kembali dites dan ternyata masih positif. Untuk test ketiga yang dilakukan pada (14/3) lalu, Riki belum mendapatkan kejelasan terkait kondisi perkembangannya hingga saat ini.

“Hasil swab ketiga justru belum tahu. Logika saya sebagai pasien, hasil ketiga saja belum keluar, kok lanjut keempat terus kelima,” ujarnya. “Sampai sekarang belum tahu kejelasan kapan akan keluar.” ujarnya.

Menurut Riki, berdasarkan penjelasan manajemen Rumah Sakit, terdapat birokrasi yang membuat hasil test Riki tidak segera diterima. Salah satunya, pihak RSUD Gunung Jati masih menunggu hasil dari Laboratorium Balitbang Kesehatan di Jakarta — badan yang ditunjuk pemerintah pusat untuk melakukan pemeriksaan swab COVID-19.

“Kendalanya saling tunggu hasil tes rumah sakit, sementara surat (dikirimkan) dalam bentuk fisik,” katanya.

Pada 11 Maret lalu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan Balitbangkes memiliki kapasitas untuk memeriksa 1.700 spesimen per-hari. Sementara berdasarkan data situs Kemenkes, hingga Sabtu (28/1) ini total 5.884 spesimen dari seluruh Indonesia telah diperiksa.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Kepala Balitbangkes Siswanto menyatakan bahwa “setiap hari hasil tes Balitbangkes disampaikan ke PHEOC secara utuh.”

PHEOC adalah singkatan dari Public Health Emergency Operation Center, badan yang dibentuk Kemenkes pada 2017 silam untuk menangani manajemen penangulangan wabah. Badan ini bertugas mengumpulkan informasi, menentukan keputusan prioritas, serta komunikasi yang perlu dilakukan ketika terjadi wabah.

Riki mengaku ingin segera mendapatkan hasil test swab miliknya. Ia menyatakan kondisi fisiknya sudah jauh membaik sehingga hasil tersebut dapat menentukan langkahnya ke depan.

Untuk bisa dinyatakan sembuh dan keluar rumah sakit, berdasarkan keterangan Achmad Yurianto, pasien harus dua kali dinyatakan negatif.

Kini ia masih menjalani perawatan di ruang isolasi seorang diri.

Berdasarkan penuturan Riki, RSD Gunung Jati memiliki lima ruangan isolasi dengan kapasitas empat tempat tidur. Sebagai pasien positif pertama, ia diisolasi sendirian di dalam satu ruangan, sementara empat ruangan lainnya diperuntukkan untuk belasan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) lainnya.

“Ibu dan adik saya menjadi PDP (Orang dalam Pengawasan), namun dinyatakan negatif hasil swabnya oleh Litbangkes pada 18 Maret lalu, berbarengan dengan swab saya yang keempat,” ujarnya.

Selain itu, Riki mengaku juga cukup prihatin dengan fasilitas Alat Pelindung Diri (APD) yang ada di RSD Gunung Jati. Ia menyebut beberapa tenaga medis menggunakan jas hujan, untuk menghemat penggunaan APD yang dijatah 100 buah oleh pemerintah.

“Bahkan dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat Dokter pakai jas hujan dan mukena sebagai pengganti APD,” kata Riki.*

Artikel ini telah tayang di CNNindonesia.com, edisi Sabtu (28/3/2020).

banner 696x414

Comment

Topik Hari Ini