Bantu Tuntaskan Buta Aksara di Pedesaan, Rumah Belajar di Kabaena ini Jadi Solusi Warga Desa

BOMBANA, TOPIKSULTRA.COM — Tanpa gedung sendiri dan masih serba kekurangan alat tulis dan buku bacaan, rumah belajar di Kabaena Kabupaten Bombana ini hadir sebagai solusi bagi warga desa yang jauh dari perkotaan.

Rumah belajar Desa Puununu, kini telah mulai menerima siswa dan sudah aktif melakukan belajar mengajar, terhitung sejak 15 November 2020.

banner 720x527

Rumah belajar yang bertujuan mencerdaskan kehidupan masyarakat di desa tersebut, terbentuk pada 17 Oktober 2020 lalu dan berlokasi di Desa Puununu Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana, Sultra.

Wiwik Hasmuroah selaku ketua dan inisiator pendiri rumah belajar tersebut mengatakan, di rumah belajar tersebut, tidak hanya mengajarkan belajar membaca dan menulis. Namun, diusianya yang baru sebulan, kini rumah belajar Puununu juga menyediakan bimbingan belajar gratis untuk siswa-siswi sekolah dasar dengan pelajaran seperti bahasa Inggris, bahasa Arab dan dasar komputer.

Namun, bukan tanpa kendala untuk mencapai semua hal yang dicita-citakan, rumah belajar Puununu tentu membutuhkan sokongan bantuan dari pihak lain.

Wiwik Hasmuroah berharap, untuk keberlanjutan aktivitas rumah belajar, diperlukan adanya rumah belajar permanen yang lebih luas.

“Saat ini proses belajar mengajar masih menumpang di gedung serba guna milik Desa Puununu,” katanya kepada TopikSultra.com, Sabtu (28/11/2020).

Kendala lain yang belum dipenuhi rumah belajar Puununu seperti kurangnya fasilitas buku bacaan dan alat-alat belajar lainnya serta dana masih menjadi kendala utama untuk perkembangan kegiatan ini.

Menurut Wiwik, ide pendirian rumah belajar Puununu, terbersit
saat beberapa masyarakat desa bertandang ke rumahnya dan ikut menonton serial televisi yang berbahasa asing dimana mereka tidak dapat membaca terjemahannya.

“Melihat keadaan tersebut, menjadi pendorong utama saya untuk merangkul semua pemuda yang ada di desa Puununu untuk membentuk rumah belajar yang di dalamnya akan diajarkan cara membaca dan menulis,” urainya.

Hal senada juga diungkapkan Divisi Pendidikan Rumah Belajar Puununu, Reflian Eka Sasindah. Menurutnya, rumah belajar Puununu terbentuk karena adanya keresahan pemuda di Desa Puununu mengenai kondisi masyarakat yang masih begitu abai terhadap pendidikan. Kemudian kurangnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan anaknya dan telah menjadi budaya yang sulit untuk dihilangkan.

“Akibatnya angka buta huruf menjadi masalah utama, terutama masyarakat di wilayah pesisir pantai di Desa Puununu,” ujarnya.

Reflian menjelaskan, hal ini juga terjadi karena beberapa sebab, diantaranya karena kondisi ekonomi masyarakat yang bermukim di pesisir pantai tidak begitu stabil.

“Membuat anak-anak yang seharusnya mengenyam pendidikan turut ikut untuk membantu orang tua mencari nafkah,” urainya.

Dengan dibentuknya Rumah Belajar Puununu, pemuda setempat kini telah menemukan wadah bersama untuk membantu generasi menjadi lentera pembaharu yang mampu bersaing dan siap mengembangkan Indonesia lebih maju pada umumnya dan di desa pada khususnya.

“Sebagai jalan alternatif bagi adik-adik yang tidak memperoleh pendidikan dan berusaha memfasilitasi mereka dengan bimbingan belajar dan proses belajar mengajar yang menyenangkan. Kami harap tidak akan ada lagi buta aksara di Desa Puununu, mengingat membaca dan menulis merupakan gerbang utama untuk mengetahui ilmu pengetahuan yang lain,” ujarnya.

Laporan: Refli

Topik Hari Ini