by

Sejak 2007 Vakum, Diajak Kembali Bersawah Petani di Desa Ini Justru Nyinyir, Sekarang….

TOPIKSULTRA.COM, LASUSUA—Kaum petani mungkin salah satu kelompok yang punya hak menentukan masa depannya sendiri, termasuk dalam hal bercocok tanam, para petani punya kemandirian untuk menentukan sendiri varietas apa yang cocok untuk ditanam.

Seperti halnya kelompok tani di Desa Pakue Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Jauh sebelumnya, secara turun temurun para petani di desa ini mengandalkan kehidupan dari bercocok tanam padi. Namun, sejak 2007, para petani di desa ini justru meninggalkan bercocok tanam padi dan beralih pada komoditas lain. Tanaman nilam, bawang merah, kedelai, dan lainnya menjadi komoditi unggulan primadona. Areal persawahan pun berubah menjadi kebun jagung, nilam, bawang merah, dan kedelai. “Bersawah sempat ditinggalkan sejak 2007 hingga 2019. Nanti 2020 baru kembali garap padi, ” kata Kepala Desa Pakue, Ichwan Alwi kepada topiksultra.com, Sabtu, (31/7/2021).

Sejak itu, tutur Ichwan, berulang kali pemerintah setempat bersama para penyuluh pertanian kembali mengajak para petani untuk bercocok tanam padi. Namun, bukannya mendapat respon, para petani justru nyinyir menolak untuk bercocok tanam padi.

Ia menuturkan, bukan hal mudah untuk meyakinkan petani agar mereka kembali mau memanfaatkan lahannya sebagai areal persawahan. Berbagai upaya pendekatan dilakukan untuk meyakinkan dan membangkitkan kembali selera petani agar bersedia bercocok tanam padi.

Mimbar masjid dan forum musyawarah desa menjadi media sosialisasi untuk mengajak warga kembali bersawah.

Kehadiran penyuluh pertanian diantaranya Mujahidin dan ketua kelompok Abd. Rahman serta Muh. Saleh, turut memberi andil motivasi dalam membantu pemerintah desa untuk meyakinkan petani. Apalagi, kontribusi Dinas PUPR Kolut sangat membantu petani dalam hal pembukaan areal persawahan baru.

“Untuk meyakinkan mereka, saya juga turun langsung menggarap sawah, dan alhamdulillah dua tahun terakhir warga sudah mulai bergerak kembali bersawah,” ujarnya.

Menurutnya, meski hasil panen kini belum maksimal. Namun,
hasil panen perdana tahun 2020 lalu mencapai 230 karung gabah, dengan luas area tanam sekitar 50 persen. “Untuk tahun ini, belum bisa diprediksi karena proses panen masih jalan, ” katanya.

Menurutnya, luas area persawahan di Desa Pakue saat ini sekitar 30 hektare. Sekitar 25 hektare telah dikelolah kembali. Tapi secara potensial luasnya bisa mencapai sekitar 45 hektare jika dihitung dengan kebun ladang disekitar area persawahan yang dulunya juga merupakan sawah kemudian beralih fungsinya sebagai kebun ladang akibat tidak maksimalnya suplai air dari irigasi. “Untuk memaksimalkan pengolahan sawah,  kami butuh bantuan hand traktor dan gender,”katanya. 

Sekertaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Natimo, mengatakan sejak adanya inisiatif masyarakat setempat untuk kembali memanfaatkan lahan persawahan, pihaknya telah memberikan bantuan mulai dari bibit sampai obat-obatan.

“Dan untuk tahun ini ada bantuan embung penampungan air persawahan,” ujarnya.


Laporan : Ahmar

Comment

Topik Hari Ini