by

Penyakit Mulut dan Kuku Serang Ribuan Sapi di Jatim, Karantina Pertanian Kendari dan PDHI Lakukan Antisipasi

TOPIKSULTRA.COM, KENDARI — Penyakit mulut dan kuku yang menyerang hewan ternak berkuku genap di Indonesia telah dinyatakan hilang dan diakui dunia pada tahun 1990. Namun, pada akhir April lalu penyakit ini kembali ditemukan menjangkiti ribuan ternak sapi di Jawa Timur.

Merespons kejadian tersebut, pihak Karantina Pertanian Kendari bersama Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Sulawesi Tenggara mulai melakukan antisipasi masuknya penyakit mulut dan kuku (PMK) di Sultra yang dapat menjangkit sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi.

“Sudah ada instruksi dari presiden dan perintah juga dari Menteri Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian terkait antisipasi penyebaran penyakit mulut dan kuku pada sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi,” terang Kepala Karantina Pertanian Kendari, N. Prayatno Ginting di kantornya, Selasa (10/5/2022).

Sebagai langkah awal, pihak Karantina Pertanian Kendari akan intens melakukan pengawasan keluar masuk Sultra terhadap hewan pembawa penyakit mulut dan kuku.

“Sultra ini sebagai salah satu daerah penghasil sapi di Indonesia dan dikirim ke kabupaten dan kota lain di luar Sultra,” terangnya.

Pihak Karantina Pertanian Kendari juga akan melakukan pengecekkan kesehatan terhadap hewan yang akan keluar dan masuk Sultra mengingat penyakit yang disebabkan virus ini masuk kategori satu yang penyebaran sangat cepat.

“Jika ditemukan satu ekor dalam pengiriman maka sapi tersebut langsung dimusnahkan. Sapi lain dan alat pengangkutnya akan diisolasi selama 14 hari agar jangan ada lagi hewan yang tertulur penyakit ini,” katanya.

Pihak Karantina Pertanian Kendari telah menyiapkan area seluas 4 hektar untuk lokasi isolasi hewan yang tertular penyakit mulut dan kuku.

Di tempat yang sama, Ketua PDHI Sultra, drh. Putu Nara Kusuma mengatakan, penyebaran penyakit yang disebabkan virus ini dapat melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, perkawinan, kotoran, dan pakan yang terkontaminasi hewan terinfeksi.

Jika hewan ternak terkena penyakit ini, maka akan terjadi penurunan nafsu makan dan produktivitas juga ikut turun terhadap karena luka di sekitar mulut dan puting susu yang menjadi cirinya.

“Otomatis produksi susu akan menurun, sehingga dampaknya pada anakan sapi tidak mendapatkan susu secara maksimal, bobot daging juga tidak akan maksimal,” terang Putu Nara.

Ciri lainnya sapi menjadi malas makan disebabkan luka di mulut dan terdapat bisa serta air liur yang berlebihan di mulut hewan ternak. Hewan ternak juga tak dapat berdiri karena luka di kuku dan suhu tubuh akibat demam mencapai 41 derajat.

Sejauh ini belum ada bukti dari berbagai hasil penelitian yang dilakukan penyakit ini dapat menular kepada manusia.

“Dari data penelitian terakhir tidak menular kepada manusia. Jadi tidak membahayakan manusia,” tegasnya.

Namun, dikarenakan belum adanya pengobatan secara pasti terhadap penyakit yang menyerang hewan berkuku genap ini, maka masyarakat diharapkan tak membuang sembarang bekas air cucian daging.

Selain itu, daging yang akan dimasak dipastikan minimal berada pada suhu 70 derajat saat dipanaskan. Tak hanya daging, barang turunan lain dari hewan ternak tersebut seperti susu dan daging olahan mesti mendapat suhu panas minimal 70 derajat.

Masyarakat diminta segera melakukan langkah persuasif jika mendapati hewan ternak yang mengalami ciri penyakit mulut dan kuku.

“Bisa berkoordinasi dengan dinas terkait, mengisolasi hewan terkontaminasi, dan melakukan penyemprotan disinfektan. Virus PMK ini tidak tahan panas dan kondisi asam,” jelas Putu Nara.

Laporan : Didul

Comment

Topik Hari Ini