Air Laut Kuning Kecoklatan Akibatkan Nelayan Desa Pitulua Berhenti Melaut

banner 468x60

TOPIKSULTRA.COM, KOLAKA UTARA – Para Nelayan yang bermukim di pesisir Pantai Desa Pitulua Kecamatan Lasusua Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terpaksa berhenti melaut dan menjaring ikan akibat kondisi muara laut alami berubah warna kekuning – kuningan pekat kecoklatan.

Pantauan awak media di lapangan Hal itu terjadi karena adanya kiriman banjir buangan lumpur dari aktifitas perusahaan tambang nikel yang beroperasi di dataran tinggi wilayah Desa Totallang yang diduga kuat tidak mempunyai sedimen pon atau pembatas sehingga ketika hujan turun deras meluber ke anak sungai Salumeja yang terhubung langsung ke Sungai Desa Pitulua.

Kejadian ini terjadi sejak pada Kamis ( 29/2/2024) dan diperparah pada Selasa dini hari (26/3/2024) ketika hujan deras turun dalam sepekan ini menghantam wilayah Kecamatan Lasusua dan sekitarnya.

Banjir buangan lumpur meluber sejauh satu kilometer ini dapat mengancam persawahan di Desa Rante Limbong hingga ke muara laut yang membentang dari pesisir Desa Pitulua hingga By Pass kawasan Masjid Agung Kolut.

Salah satu Nelayan yang bermukim di Dusun III Desa Pitulua, Kecamatan Lasusua, Sabri menjelaskan kejadian ini semakin parah bermula sebelum awal puasa Ramadan sehingga para nelayan batal menjaring ikan karena air laut berubah warna merah ke kuning – kuningan bukan hanya itu permukaan dasar laut juga tidak kelihatan karena adanya lumpur tebal kiriman dari sungai Desa Pitulua.

” Kami tidak jadi turun mencari ikan kalau kondisinya begini bagaimana caranya mau ada ikan kalau lautnya merah. Kecuali memancing pakai perahu itupun harus jauh ke luar,” ujar Sabri kepada wartawan saat di temui dilokasi pantai Desa Pitulua. Selasa (26/3/2024).

Lebih lanjut,Sabri mengatakan, penampakan kondisi laut pesisir di ibukota hari ini merupakan yang terparah setelah hujan deras mengguyur pada Senin malam dini hari, warna merah kecoklatan itu tidak pernah kami saksikan pada tahun-tahun sebelumnya.

Ditempat yang sama, Sekretaris Desa Pitulua (Sekdas) Risaldi membenarkan kejadian itu sungai Desa Pitulua mengalami perubahan warna menjadi merah kekuning – kuningan kecoklatan tua yang melintasi desanya diduga dampak dari aktifitas pertambangan di Desa Totallang, hujan yang mengguyur semalaman membuat limpasan lumpur mengalir ke Sungai Salumeja, melewati Sungai Desa Rantelimbong persawahan dan menuju ke sungai besar ibukota Lasusua.

“Saya perhatikan beda kondisinya,kalau hanya karena dampak usai hujan deras di hulu atau karena ada longsoran palingan warnanya kecoklatan. Tetapi saat ini memang warnanya merah,” katanya

Menurutnya sementara dihulu sungai yang mengalir dari Desa Batuganda kondisinya tetap airnya jernih.

” Sedangkan yang berasal dari Salumeja ke arah Desa Totallang berwarna merah.” ucapnya

Terpisah, Bupati Lembaga Swadaya Masyarakat Lumbung Informasi Rakyat (LSM Lira) sekaligus sebagai Anggota Badan Permusyatan Desa (BPD) Desa Pitulua,Ahmad Yarib mengungkapkan kejadian perubahan warna air sungai yang sudah bercampur lumpur berwarna coklat itu terjadi sejak
Kamis ( 29/2/2024) dan diperparah pada Selasa dini hari (26/3/2024) ketika hujan deras turun dalam sepekan ini menghantam wilayah Kecamatan Lasusua dan sekitarnya.

“Nanti kami ketahui pada saat kami melintas di jembatan dan melihat perubahan warna air sungai yang tidak lazim,” tuturnya

Menurut, Ahmad Yarib kasihan para nelayan yang bermukim di pesisir Pantai Desa Pitulua sumber mata pencaharian mereka sebagai penangkap ikan akan hilang.

” Bukan hanya habitat laut juga pasti berdampak kalau kondisi ini tidak cepat tertangani,” terangnya

Laporan : Ahmar

Editor

Comment