TOPIKSULTRA.COM, KOLAKA — Launching (peresmian) Ruang Bersama Indonesia (RBI) Laika Pepokoasoa di Desa Tikonu, Kecamatan Wundulako,Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara. berlangsung meriah. Peresmian ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kolaka yang mewakili Bupati Kolaka.Rabu (1/7/2026),
Kegiatan launching yang dipusatkan di Lapangan Rire, Desa Tikonu, dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kolaka Hj. Andi Riska Amri, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Kolaka Ibu Ani, Kepala Dinas PMD Kabupaten Kolaka Agus Rauf, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Kolaka Sairman, Sekretaris Dinas dan sejumlah kepala bidang DP3A Kolaka, pengurus PD Aisyiyah Kabupaten Kolaka, Camat Wundulako, Baula, Pomalaa, dan Kolaka, pengurus Tim PKK Kecamatan Wundulako serta desa dan kelurahan se-Kecamatan Wundulako, serta tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh perempuan.
Dalam sambutannya, Bupati Kolaka yang diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Kolaka,Akbar,S.Sos,M.M menyampaikan apresiasi atas hadirnya RBI Laika Pepokoasoa Desa Tikonu yang difasilitasi melalui Program Inklusi Pimpinan Daerah Aisyiyah Kolaka, Dinas DP3A Kabupaten Kolaka, dan Pemerintah Desa Tikonu.
“Kami mengapresiasi launching Ruang Bersama Indonesia Laika Pepokoasoa di Desa Tikonu. Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut dan dikembangkan di desa-desa lain di Kabupaten Kolaka,” ujar Sekda Kolaka saat membacakan sambutan Bupati Kolaka melalui rilis resminya.Jum’at (3/7/2026)
Pada kesempatan tersebut, Sekda Kolaka juga menyerahkan bantuan satu unit kursi roda dari Dinas Sosial Kabupaten Kolaka kepada salah seorang warga Desa Tikonu yang mengalami kelumpuhan akibat stroke.
Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat Desa Tikonu, Opa Nurdin, mengapresiasi hadirnya RBI Laika Pepokoasoa yang difasilitasi PD Aisyiyah Kolaka bersama Dinas DP3A Kabupaten Kolaka.
Menurutnya, kehadiran Program Inklusi yang dijalankan Aisyiyah telah memberikan dampak positif, khususnya bagi kaum perempuan di Desa Tikonu.
“Dulu sebelum ada Program Inklusi, ibu-ibu paling hanya berkumpul untuk mengobrol yang kurang produktif. Tapi sekarang, setiap berkumpul selalu menghasilkan kegiatan yang bermanfaat, seperti membuat keripik, kerajinan tangan, dan berbagai kegiatan produktif lainnya,” kata Opa Nurdin.
Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut karena dinilai mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat, khususnya kaum perempuan, melalui berbagai kegiatan yang bernilai ekonomi dan sosial.
Laporan: Ahmar















Comment