Banjir Bandang Melanda Desa Pasampang Ratusan KK Terisolir Akibat Jembatang Terputus

Berita, Kolaka Utara1543 Views

TOPIKSULTRA.COM, KOLAKA UTARA — Akibat Hujan Deras yang mengguyur Wilayah Kecamatan Pakue dan Tengah Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Sulawesi Tenggara pada (Sultra) yang terjadi sekitar pada pukul.21.00 Wita Selasa malam (1/4/2025).

Sehingga membuat sungai Desa Pasampang meluber kemana-mana dan membuat satu unit jembatan penghubung antar Dusun di Desa Pasampang sepanjang 25 Meter terputus akibat di hantam derasnya arus sungai tersebut. Dan membuat sebanyak 115 Kepala Keluarga (KK) yang berada di Dusun 5 terisolir

Akibat dari peristiwa ini, tercatat bukan hanya warga Dusun 5 terisolasi, juga berdampak pada akses air bersih ke tiga desa Powalaa, Labipi, dan Pasampang terputus total. Warga kini kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Kepala Desa Pasampang, Haerul Akbar, mengatakan banjir dengan skala besar seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. baru kali ini terjadi dan membuat warga terisolasi telah diberi imbauan agar tetap berada di dalam wilayah masing-masing hingga akses kembali pulih.

“Kami sangat panik saat melihat air sungai meluap dengan derasnya. Salah satu keluarga, seorang ibu bersama dua anaknya, sempat terjebak di rumah mereka yang berada dekat bantaran sungai. Kami tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Alhamdulillah, mereka akhirnya selamat meski rumah mereka mengalami kerusakan parah,” ujar Haerul kepada wartawan saat dikonfirmasi pada Rabu (2/4/2025).

Lebih lanjut, Haerul Akbar menyebut selain Infrastruktur jembatan terputus, fasilitas saluran air bersih yang mengalir ke tiga Desa juga mengalami kerusakan berat. Banyak pipa saluran yang hanyut terbawa arus, menyebabkan warga tidak memiliki akses air bersih untuk sementara waktu.

“Kami benar-benar kesulitan air bersih. Jika harus diperbaiki, kemungkinan butuh waktu sekitar satu minggu sebelum kembali normal. Kami sangat berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki fasilitas ini karena ini menyangkut kebutuhan mendesak masyarakat,” sebutnya

selain itu, menurut Haerul Akbar Jembatan yang roboh ini merupakan jalur utama bagi sekitar 80 persen warga Dusun 5 yang setiap hari menggunakannya untuk menuju lahan perkebunan mereka. Tanpa akses ini, kegiatan ekonomi warga akan terganggu secara signifikan, memperburuk kondisi mereka pasca-bencana.

Bencana banjir dan longsor bukan kali pertama terjadi di Kolaka Utara. Berbagai pihak menyebutkan bahwa eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, seperti perambahan hutan dan aktivitas pertambangan, turut memperburuk risiko bencana alam di wilayah ini. Kerusakan lingkungan yang tidak terkendali membuat daerah ini semakin rentan terhadap banjir dan tanah longsor.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan segera bertindak cepat untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak serta memulihkan akses air bersih. Warga sangat membutuhkan bantuan untuk kembali bangkit dari bencana ini, baik dalam bentuk logistik, rehabilitasi, maupun solusi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Laporan : Ahmar

Related Posts

Jangan Ketinggalan Berita Lainnya

Comment