Harga Telur di Kolut Melonjak, Pembeli Sepi

TOPIKSULTRA,COM, KOLAKA UTARA – Harga telur di Pasar Lacaria, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra) cenderung mengalami kenaikan. Kondisi teraebut membuat para pedagang mengeluh, selain pembeli sepi, keuntungan yang diperoleh pun menipis.

Salah satu pedagang di Pasar sentral Lacaria Lasusua, Marsiah mengatakan, pihaknya tidak menjual dalam hitungan per kilogram lantaran keuntungannya dianggap sangat tipis. Jika harga normal biasanya masih diperoleh Rp45.000-Rp47 per rak, saat ini dipatok distributor senilai Rp55.000-Rp.58.000 per rak.

“Rp55.000 itu telur lokal Kolut. Hanya saja stoknya terbatas jadi kita lebih banyak membutuhkan dari luar juga,” ujar Marsia kepada Wartawan saat ditemui dilapaknya, Kamis (25/5/2023).

Marsia menyebut, pasokan dari luar Kolaka Utara itu didistribusikan dari Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel). Pihaknya hanya untung sebesar Rp2.000/rak karena distributor mematok harga penjualan ke pedagang senilai Rp58.000.

“Sekedar pelengkap jualan saja karena pembelinya juga kurang karena mahal. Belum lagi jika ada yang pecah atau rusak ya begitulah,” keluhnya.

Begitu juga para pedagang lain yang berada di pasar sentral lacaria berharap kepada pemerintah agar bisa mengambil solusi untuk mengendalikan harga telur. Menjual telur dengan harga murah melalui pasar murah dianggap merugikan pedagang karena jualannya tidak dilirik pembeli.

“Sementara harga di pasar tidak kunjung turun karena telur lokal memang kurang, lebih banyak pasokan dari luar,” ujarnya.

Pedagang lain, Hariani mengatakan harga telur dari distributor lokal ke pedagang bisa diperoleh senilai Rp55.000 dan dijual juga sebesar Rp60.000. Ditributor lokal hanya bisa menyiapkan maksimal 50 rak per hari.

“Tidak cukup untuk kebutuhan pedagang di pasar, jadi tetap harus ambil dari Sidrap meski agak mahal,” terangnya.

Peternak ayam petelur di Desa Ponggiha, Muh. Sani mengatakan khusus ternakannya hanya bisa menghasilkan 14-15 rak telur per hari. Penjualan ke pedagang Rp55.000 dan masyarakat umum naik sebesar Rp3.000 per rak.

“Penjualan lokal memang agak terjangkau karena jarak antar juga dekat. Namun jika kami harus mengirim ke luar daerah harus sama nilainya dengan telur dari Sidrap agar tidak merugikan sesama distributor lain,” tuturnya.

Untuk menggandakan jumlah ayam petelur di Kolut dikatakan terkendala pakan, vitamin hingga obat-obatan lainnya. Kebutuhan yang dianggap wajib bagi peternak itu harus dipasok dari Sidrap hingga Makassar.

“Jujur kita juga untung tipis tetapi yang penting lancar karena semua kebutuhan peternakan juga membutuhkan modal simpanan agar tetap berkelanjutan dan tidak gulung tikar,”pungkasnya.

Laporan : Ahmar

Comment

Topik Hari Ini