TOPIKSULTRA.COM, KOLAKA UTARA — Bangunan Pabrik Kakao terbesar di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Sulawesi Tenggara (Sultra) milik yang Pemerintah Kabupaten Kolut jadi sasaran maling.
Proyek itu dibangun tahun 2020 lalu melalui Dana APBD sebesar 2,3 Milliar rupiah dengan luas Bangunan berukuran 18 x 22 meter serta di fasilitasi pengadaan mesin pengolahan.
Diketahui Pabrik ini bakal menyerap tenaga kerja 500 orang, namun memasuki tahun 2025 malah kondisi dan fasilitas bangunan sangat memprihatinkan, sejumlah sarana pengolahan Kakao dan alat produksi rusak berat serta kabel aliran listrik digulung maling.
Pihak Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) setempat sedang berupaya keras melakukan pemulihan. Dalam sebulan terakhir, mereka berjibaku dengan rumput liar yang menggerogoti kawasan sentra untuk dibersihkan.
“Sejak sebulan terakhir, kami lakukan kerja bakti untuk membersihkan area karena rumputnya itu sudah panjang-panjang. Alat-alat di sana itu sudah banyak yang rusak dan bahkan hilang dicuri” sebut Kadis Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kolaka Utara, Kamal Mustafa menggambarkan. Jum’at (30/5/2025)
Lebih lanjut, Kamal mengatakan bukan hanya bagian dari alat produksi yang dipreteli maling, sejumlah kabel kelistrikan pada sarana itu digasak pencuri dengan cara dipotong-potong.
Hal itu karena fasilitas tersebut tanpa penjagaan dalam 24 jam hingga pencuri leluasa melakukan aksinya.
“Kami sudah melaporkan pencurian ini ke pihak kepolisian, namun hingga kini belum ada perkembangan terkait pelaku,” terangnya.
Menurutnya, pihaknya saat ini tengah berupaya melakukan pembenahan. Hal itu dikarenakan Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka direncanakan bakal berkunjung ke Kolut dan menyambangi kawasan pengolahan biji kakao tersebut.
Pasalnya, Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara sebelumnya telah melakukan pengadaan mesin produksi baru menggantikan unit yang sudah ada. Hal itu dilakukan 2023 silam melalui anggaran APBD sebesar Rp6 miliar.
Alat baru tersebut diklaim berskala bisnis dan dipesan dari Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Jika mesin sebelumnya hanya mampu memproduksi 100 kilogram bahan baku per hari, alat terbaru diklaim mampu tembus 10 ton per hari dan bisa menghasilkan olahan dalam bentuk nips, bubuk dan lemak atau minyak kakao.
Laporan: Ahmar
















Comment