TOPIKSULTRA.COM, KOLAKA UTARA — Dinas Koperasi,Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat sebanyak 2.520 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdaftar namun yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sebanyak 470 Usaha.
Jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tersebut tumbuh positif pasca pandemik Covid-19. Sayangnya, dari 2.520 unit terdaftar, 2.050 diantaranya Tak Kantongi Nomor Induk Berusaha (NIB).
Plt.Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kolaka Utara, Ramlah Rusli,S.T menjelaskan data pada bulan Mei tahun 2024 hanya 470 unit usaha yang telah mengantongi NIB. Bagi yang belum memiliki identitas izin usaha itu dipastikan tidak bisa didata sebagai penerimah bantuan dari Pemerintah.
“Jadi jangan berpikir kalau ada kesengajaan dari kami untuk menghalang-halangi mereka hingga tidak mendapat bantuan. Kedepan ini akan ada penyaluran,” jelas Ramlah Rusli Kepada Wartawan saat diwawancarai di ruang kerjanya.Senin (27/5/2024).
Lebih lanjut, Ramlah Rusli mengatakan meski jumlah UMKM di Kolaka Utara alami peningkatan secara signifikan namun untuk jangkauan pemasaran dinilai stagnan. Hal itu dipengaruhi faktor kapasitas daya saing bisnis dan produk yang minim dipahami.
Persaingan itu disampaikan berlaku baik secara daring maupun luring, namun yang lebih mendasar fakto kemasan dari produk yang dipasarkan itu butuh sentuhan kreatifitas.
“Contoh, banyak produk UMKM yang hendak dimasukan ke Indomaret namun ditolak karena kemasannya dianggap tidak menarik hingga sulit dilirik pembeli,” katanya
Selain itu, Ramlah Rusli menyebut baru satu UMKM di Kolaka Utara yang produknya berupa Baje Bandong yang melanggeng hingga ke Malaysia via penjualan online. Sementara itu, sebagian besar hanya beredar di skala lokal di wilayah Kolaka Utara dan terjauh lintas provinsi.
Ramlah Rusli berharap kedepannya para pelaku UMKM bisa mendapatkan pelatihan tersendiri terkait kemasan produk. Minimal pada momen perhelatan jambore tingkat Provinsi dalam waktu dekat ini bisa menjadi perhatian mereka untuk mengevaluasi kemasan produknya sebagai loncatan dalam mempromosikan produknya ke skala yang lebih luas.
“Kualitas produk pada dasarnya cukup bersaing. Hanya persoalan kemasan dan strategi pemasaran ini yang kurang,” harapnya
Laporan : Ahmar


















Comment