TOPIKSULTRA.COM, KOLAKA UTARA — Wakil Bupati Kolaka Utara (Kolut), H. Jumarding, S.E menyampaikan hasil inspeksi mendadak (sidak) tujuh Puskesmas di Kolaka Utara selama dua hari berturut-turut, mulai 31 Juli dan berakhir 1 Agustus 2025.
Dalam sidaknya, pihaknya menemukan berbagai persoalan serius, mulai dari fasilitas rusak hingga kualitas bangunan baru yang buruk dan tidak layak digunakan.
Dari Total tujuh puskesmas di enam kecamatan menjadi sasaran sidak, termasuk Puskesmas Pakue dan Puskesmas Latali. Di Puskesmas Pakue, Wabup menemukan tiga unit toilet pasien tidak berfungsi, termasuk toilet di ruang perawatan.
“Saya turun kel lapangan bukan cari kesalahan tetapi mau tahu apa yang keresahan masyarakat terkait masalah pelayanan di Puskesmas ini dan ternyata ada tiga Water Closet tidak berfungsi maka dari kasus ini,saya minta Kepala Dinas Kesehatan agar di berikan perhatian khusus,” ujar H. Jumarding usai monev di Tujuh Puskesmas. Sabtu (2/7/2025)
Lebih lanjut, H. Jumarding menyebut yang lebih parah ditemukan di Puskesmas Latali. Meskipun bangunan tersebut baru diresmikan sekitar enam bulan lalu, kondisinya sudah mengalami banyak kerusakan. Ruang pelayanan sering tergenang air akibat atap bocor. Selain itu, aliran air pada enam toilet di puskesmas tersebut tidak mengalir serta saluran pembuangannya tersumbat.
H. Jumarding meminta agar Dinas Kesehatan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), konsultan pengawas, Inspektorat, hingga Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera menindaklanjuti temuan tersebut.
“Kalau dana pemeliharaan sudah dikucurkan tapi tidak digunakan sebagaimana mestinya, saya minta tanggung jawab pihak terkait gunakan dana pribadinya. Kalau memang tidak bisa diselesaikan dengan baik silahkan masalah ini didorong ke penegak hukum,” tegasnya.
Bukan hanya itu, H. Jumarding juga menyoroti pembangunan Puskesmas Pakue Utara yang menelan anggaran Rp.8,1 miliar. Menurutnya, proyek tersebut berjalan tanpa transparansi karena tidak memasang papan informasi proyek dan tidak ditemukan kantor direksi di lokasi.
“Kenapa proyek ini terkesan seperti proyek siluman yang tidak ingin diketahui publik?” tanyanya dengan nada geram.
Sementara itu, kondisi Puskesmas Batu Putih juga menuai sorotan karena tidak memiliki alat pendingin ruangan, bahkan kipas angin pun tidak tersedia di ruang pasien. Hal ini membuat pasien merasa tidak nyaman saat menjalani perawatan.
“Akhirnya orang sakit datang justru jadi stres. Ini harus jadi perhatian dinas terkait,” ujarnya.
Namun demikian, pihaknya memberikan apresiasi terhadap pembangunan Puskesmas Latowu yang tengah berjalan. Dirinya menilai progresnya baik dan berharap bisa diselesaikan tepat waktu sesuai kontrak.
“Saya harap kepala desa hingga camat turut memantau progres pembangunan ini,” tambahnya.
Sidak Masjid Mangkrak di Desa Lawaki Masih dalam rangkaian kunjungan kerja, Wabup Jumarding juga menyambangi proyek pembangunan Masjid di Desa Lawaki, Kecamatan Tolala, yang mangkrak dan kini dalam penanganan Kejaksaan Negeri Kolut.
Dari keterangan salah satu pekerja, diketahui proyek masjid tersebut awalnya mendapat alokasi anggaran lebih dari Rp.1 miliar, namun sempat terhenti dan dilanjutkan kembali dengan dana sekitar Rp800–Rp900 juta. Sayangnya, material bangunan yang sudah terpasang justru dibongkar dan dibiarkan terbengkalai hingga digarap oleh pihak Kejari Kolut terkait dugaan korupsi.
“Malu rasanya kalau bangunan ini tidak dituntaskan. Apalagi lokasinya berada di jalan poros Trans Sulawesi, kawasan perbatasan Sultra-Sulsel,” ucapnya.
Jumarding berharap agar proyek masjid tersebut bisa diaudit dan dilanjutkan jika tidak ada kendala hukum. Namun jika proses hukumnya masih berjalan, ia mendorong agar diselesaikan secepatnya agar pembangunan dapat dilanjutkan.
“Kalau aturan membolehkan, saya ingin masjid ini diselesaikan. Tapi jika perlu menunggu proses hukum, saya minta agar proses itu segera dituntaskan,” pungkasnya.
Laporan: Ahmar
















Comment