Tingkatkan Kualitas SDM dan Kakao, Disbunnak Kolaka Utara Jalin Kerja Sama dengan LPEI

banner 468x60

TOPIKSULTRA.COM, KOLAKA UTARA -Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Jalin kerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank.

Launching kerjasama LPEI (Indonesia Eximbank) dan Pemerintah Kabupaten Kolaka berlangsung di aula major projects kakao center, Desa Ponggiha, Kecamatan Lasusua, Rabu (9/8/2023).

Kerja sama bertajuk pendampingan desa devisa klaster kakao, menitikberatkan pada proses peningkatan sumber daya manusia (SDM), khususnya para petani kakao yang tergabung dalam korporasi petani binaan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kolaka Utara.

Asisten I Sekda Kolaka Utara, Muchlis Bahtiar menjelaskan, kerja sama dalam bentuk pendampingan desa devisa klaster kakao oleh LPEI/Indonesia Eximbank dengan Disbunnak Kolaka Utara akan membawa dampak positif bagi pengembangan sektor pertanian/perkebunan, khususnya komoditi kakao dan pengelolaan mejor projects cacao center.

“Lembaga ini tidak hanya memberikan pendampingan teknis, tapi juga pendampingan modal sampai kepada pencarian pangsa pasar yang cocok dengan kualitas produksi yang dihasilkan pabrik kakao center Kolaka Utara,” ujar Muchlis Bahtiar kepada Wartawan saat dikonfirmasi melalui Via selulernya, Kamis (10/8/2023).

Lebih lanjut, Muchlis Bahtiar mengatakan, kerja sama seperti ini jadi kerinduan Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara. Sebenarnya, saat menyusun rencana program revitalisasi kakao, tim dagang dapat bekerja efektif mencari pangsa pasar. Namun tim ini belum berhasil memenuhi ekspektasi Pemkab Kolaka Utara.

“Harapannya, kehadiran LPEI ini dapat meningkatkan SDM para petani, mencari pangsa pasar, dan menggiring hasil olahan industri kakao center Kolaka Utara untuk ekspor ke manca negara,” terangnya.

Indonesia Eximbank sebelumnya telah melakukan survei potensi klaster kakao di Kolaka Utara. Usai survei dengan berbagai variabel, lembaga ini akhirnya menetapkan Kolaka Utara memenuhi syarat untuk dilakukan pendampingan desa devisa.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kolaka Utara, Ismail Mustafa menjelaskan, kerja sama kedua lembaga ini berlangsung selama tiga tahun ke depan dengan keseluruhan biaya ditanggung oleh pihak Indonesia Eximbank. Kegiatannya dimulai dari pendampingan proses kelembagaan, pengolahan, pengurusan dokumen ekspor, sampai pendamping pembiayaan dan pemasaran.

“Kami sangat bersyukur dari 60 korporasi petani dan nelayan (KPN) percontohan, Kabupaten Kolaka Utara turut mendapat rekomendasi dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi dan UKM, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mendapat pendampingan,” ujarnya.

Menurutnya, Pendampingan LPEI sangat membantu Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara khususnya penyediaan SDM pengolahan, kelembagaan, dan pembiayaan.

“Satu kesyukuran bagi kita, mereka hadir untuk meringankan beban keuangan yang selama ini menjadi kendala utama kita,” ujar Ismail.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Devisi Jasa Konsultasi LPEI, R. Gerald S. Grisanto. Dia mengungkapkan,
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi dan UKM, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan telah erekomendasikan 60 KPN percontohan untuk mendapatkan fasilitas non-finansial dari LPEl.

“Salah satunya adalah PT Kakao Kolut Madani yang merupakan binaan dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kolaka Utara,” katanya.

LPEI telah melakukan kurasi kepada 60 KPN berdasarkan 8 fokus industri pengembangan desa devisa, yakni kopi, kakao, fashion, perikanan, furniture dan home decor, rempah, kelapa dan turunan, serta makanan dan minuman.

“Berdasarkan kurasi tersebut, komoditas PT Kakao Kolut Madani termasuk dalam industri prioritas tersebut,” ujarnya.

Selanjutnya, dilakukan survei potensi ke Kabupaten Kolaka Utara oleh LPEl pada tanggal 17 Mei 2023. Skoring terhadap klaster kakao Kolaka Utara menggunakan indikator desa devisa yang merupakan hasil kajian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) juga dilakukan.

Indikator itu antara lain keunikan produk, spesifikasi dan kualitas produk, proses produksi, potensi pasar dan positioning, kapabilitas finansial, potensi desa, manajemen bisnis, dan indikator infrastruktur.

“Hasil dari skoring ini, Klaster Kakao di Kabupaten Kolaka Utara memiliki klasifikasi desa devisa quick wins, sehingga klaster ini eligible (memenuhi syarat) untuk memperoleh pendampingan desa devisa LPEI dengan pemenuhan gap dilakukan selama setahun,” urainya.

Tindak lanjutnya, ujar dia, LPEI bersama Kemenkeu Satu, Kementerian Pertanian dan Pemerintah Kabupatan Kolaka Utara, akan memberikan petani kakao melalui serangkaian pendampingan mencangkup pendampingan manajemen usaha kakao berorientasi ekspor dan kelembagaan.

Peningkatan kualitas mutu biji kakao, pendampingan prosedur, dokumen ekspor, dan penyuluhan perpajakan, pendampingan perluasan akses pasar, dan pendampingan fasilitasi akses pembiayaan.

“Tujuan pendampingan antara lain meningkatkan kompetensi manajemen, kapasitas produksi, memperluas area pemasaran ekspor, dan memiliki rencana bisnis, ekspor. Sehingga desa devisa menjadi bankable dan menciptakan ekspor berkelanjutan,” ucapnya.

Laporan : Ahmar

Editor

Comment