Ali Mazi: Perubahan Harus Dikelolah dengan Nilai Moral dan Budaya yang Kuat

Berita, Kendari203 Views
banner 468x60

KENDARI, TOPIKSULTRA.COM — Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi menegaskan setiap perubahan harus dikelola dengan nilai-nilai moral yang kuat dalam budaya kita sendiri, agar anak-anak bangsa tidak kehilangan identitas dan orientasi, yang bisa mengancam kelangsungan hidup berbangsa.

Hal ini dikatakan Ali Mazi dalam sambutannya pada peluncuran dua buku yang berjudul nilai-nilai pendidikan karakter anti korupsi dalam kearifan Buton Ali Mazi: Perubahan Harus Dikelolah dengan Nilai Moral dan Budaya yang Kuat dan buku mekanisme adat pengangkatan Sultan Buton dan peran lembaga adat kesultanan Buton dalam pembangunan daerah di Sulawesi Tenggara, yang dilaksanakan di salah satu hotel di Kota Kendari, Senin, (14/12/2020).

Menurutnya, budaya adalah modal pembangunan bangsa. Modal tersebut terletak pada perannya sebagai pengendali cara berpikir, berorientasi, dan berperilaku masyarakat.

Karena itu, gubernur menyambut baik perlunya menggali nilai-nilai budaya yang telah lama dan berkembang di dalam masyarakat yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk buku yang diharapkan dapat menjadi dokumen tertulis sekaligus menjadi bahan bacaan yang akan melengkapi ragam bahan pustaka.

“Saya berharap agar pengetahuan masyarakat Sultra mengalami peningkatan, termasuk pengetahuan tentang sejarah dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal Sultra,” katanya.

Ali Mazi juga berharap, buku tersebut dapat menjadi referensi bagi studi penelitian dan pengembangan keilmuan yang relevan, utamanya dalam kajian ilmu budaya dan pembinaan karakter generasi muda.

Selain itu, kedua buku tersebut dapat menjadi jembatan penghubung, agar mata rantai nilai-nilai kehidupan tidak putus sebagai suatu bangsa.

“Kita punya tanggung jawab moral untuk melestarikan nilai-nilai kearifan kepada generasi muda, karena mereka umumnya miskin pengetahuan tentang masa lalu, dan hanya mengembangkan orientasi masa depan seperti apa yang menjadi cita-cita mereka,” tuturnya. Kepala Balitbang Sultra, Dr. Sukanto Toding mengungkapkan, kegiatan tersebut diawali dengan kegiatan penelitian, yang kemudian dilanjutkan dengan bedah buku, dan kemudian diakhiri dengan penulisan buku. “Bedah buku dilaksanakan dengan melibatkan ahli, tokoh masyarakat, dan budayawan Buton yang dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2020, di Kota Bau-bau dan hari ini puncak kegiatan peluncuran buku,” katanya.

Menurutnya Sukanto, hal ini merupakan upaya pemerintah provinsi Sultra untuk terus memperluas kerjasama dengan perguruan tinggi di daerah, dalam rangka menggali keunikan dan kekhasan masing-masing kabupaten/kota, baik dalam aspek budaya maupun keanekaragaman sumber daya alam. “Kegiatan ini mengambil lokus kajian dan narasumber berasal dari empat kabupaten dan kota di jazirah Buton, yakni meliputi kota Bau-Bau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Selatan, dan Kabupaten Buton Tengah,” ujarnya. Peluncuran kedua buku tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra, Asrun Lio, Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Sultra, Fesal Musaad, Rektor Universitas Dayanu Ikhsanuddin, Bau-Bau, yakni La Ode Muhammad Sjamsul Qamar, MT dan Rektor Universitas Halu Oleo, Prof. Muhammad Zamrun.

Kedua buku tersebut merupakan program dan kegiatan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), bekerjasama dengan Universitas Dayanu Ikhsanuddin, Bau-Bau, tahun 2020.

Laporan: Mita

Editor