Kepsek SMPN 1 Kulisusu Diduga Tempeleng Siswanya

banner 468x60

TOPIKSULTRA.COM, BUTON UTARA – Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kulisusu, Buton Utara (Butur), Sulawesi Tenggara (Sultra) inisial NS, diduga melakukan tindakan penganiayaan terhadap muridnya KN (14), di sekolah tersebut, Kamis (24/8/2023).

Menurut keterangan korban, kejadiannya berawal saat dirinya masuk sekolah dan memarkirkan sepeda motornya di samping sekaloh.

“Kejadiannya itu pas saya masuk sekolah, motor saya parkir di belakang kelas samping kantin. Disitu bukan cuma motorku, ada juga motor siswa yang lain. Kepala sekolah datang sambil menunjuk motorku lalu menanyakan motornya siapa itu,” cerita korban.

Ketika korban menjawab itu motor miliknya, dia langsung ditempeleng sampai jatuh. “Saat jatuh, dia tarik tanganku dan lanjut tampar saya berkali-kali,” ungkapnya.

Setelah diduga menganiaya siswa, Kepsek langsung meminta kunci motor siswa dan mengempeskan ban motor tersebut.

Akibat hal tersebut, keluarga korban langsung melaporkan dugaan tindakan kekerasan tersebut kepada pihak yang berwajib.

“Kami sangat keberatan. Kami sudah laporkan dan tadi sudah dilakukan visum kepada anak saya, tinggal menunggu hasilnya saja,” kata keluarga korban.

Pasalnya setelah mengalami kekerasan yang diduga dilakukan NS, korban mengalami trauma yang berat dan tidak berani lagi untuk masuk sekolah.

Saat dihubungi, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Butur, AKP Juwanto, S.H terkait laporan kasus tersebut, mengaku informasi dari anggotanya benar ada laporan.

“Tapi fisik aduannya belum masuk sama saya,” kata Juwanto, Jumat (25/8/2023).

Saat dikonfirmasi lewat teleponnya pada pukul 19.50 Wita terkait kasus ini, Kepala SMPN 1 Kulisusu, NS mengaku mau shalat isya dulu.

“Mau salat dulu, mau salat dulu pak,” kata NS.

Namun saat dihubungi kembali pada Pukul 20.17 Wita, nomor telepon NS sudah tidak aktif lagi.

Dihubungi terpisah, Kepala UPTD Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Butur, Sarsia mengatakan, pihak korban sudah mengadu ke kantornya.

“Sekarang kami masih tahap pendampingan korban,” kata Sarsia lewat WhatsApp.

Ia menambahkan, waktu pihaknya melakukan assessment di kantornya terkait dugaan penganiayaan itu, korban tidak bilang jika mengalami trauma.

“Mungkin malu atau takut bilang ke kami ya,” ujarnya.

Laporan: Aris

Editor

Comment